Elemen utama dari cinta
adalah hati nurani dan akal. Akal pada dasarnya bertugas untuk mengenal apa yang
sebaiknya harus kita cintai. Sedangkan hati nurani bertugas memelihara cinta
tersebut dengan ketulusan yang tumbuh dari kesadaran akal ketika merespons
secara sadar sebuah pilihan.
Di dalam kehidupan ini, wujud cinta yang utama dan terindah adalah kecintaan makhluk dan Sang Kholiq dan kemudian kepada Rasul-Nya.
Di dalam kehidupan ini, wujud cinta yang utama dan terindah adalah kecintaan makhluk dan Sang Kholiq dan kemudian kepada Rasul-Nya.
Cinta yang sedang tertuju pada sesuatu akan tertanam didalam hati dan membentuk dua tahapan. Pertama, rasa cinta akan membentuk pola dasar dan kaidah bagi perasaan, kehendak dan obsesi dalam hidup. Pada tahapan ini cinta terkadang diwujudkan dalam suatu peristiwa, ucapan, tindakan, hubungan social, kebenaran dan laku. Kedua, kecintaan seseorang terhadap objek tertentu akan menjadi pusat segala sesuatu yang berhak dalam nurani orang tersebut sehingga sama sekali tidak ada peluang bagi objek lain untuk masuk kedalam hatinya. Artinya, manusia seperti ini akan selalu memandangobjek cintanya sebagai obsesi kemana saja ia menghadap dan mengarah. Mungkin karena itulah tiba-tiba Ukasyah bertindak “aneh” ingin mengqishas” Rasulullah disaat menjelang wafatnya, sementara sahabat yang lainnya sedang dirundung kesedihan yang tiada tara.
Kisahnya, siang itu setelah
mengimami sholat, nabi berdiri dengan payah, lalu berkhotbah: ”wahai sekalian
manusia, aku adalah nabi kalian, yang menasehati kalian untuk berbuat baik ddan
menjahui segala kemungkaran, aku adalah sahabat kalian. Siapa yang pernah aku
sakiti, sengaja atau tidak maka sebelum aku meninggal kalian hendaklah
mengambil “qishash’ dariku. Mendengar permintaan itu, suasana masjid seketika
menjadi hening. Tak seorangpun sahabat yang berani mengangkat kepalanya. Mereka
semua diliputi suasana haru dan kesedihan. Sekarang bukan waktunya tersenyum
apalagi bercanca”.setelah tiga kali nabi meminta dan mengulangi perkataan itu,
berdiriilah Ukasyah bin mihsan. Ia berkata “wahai Rasulallah, ketika peristiwa
perang badar, onta yang engkau tunggangi berjalan beriringan dengan ontaku,
ketika itu engkau melecutkan cambukmu dan mengenahi perutku. Aku tidak tahu
engka sengaja atau tidak!” Rasulullah menjawab: “tidak ada maksudku kepadamu
kecuali aku memang sengaja melakukannya.” Nabi lantas menyuruh bila mengambilkan
cambuknya dirumah putrinya, Fatimah.
Raut muka Ukasyah yang tampak
serius membuat para sahabat marah melihat kelancangannya. Segera berdiri Abu
Bakar dan Umar, disusun ali dan terakir hasan dan husen. Semua berkata: “hai
Ukasyah kami tidak akan membiarkanmu menyakiti tubuh Rsulullah sedikit pun.
Jika kau berkehendak, silakan lakukan qishash itu kepada kami!” Rasulullah
kemudian memberikan isyarat agar mereka kembali ke tempat duduk masing-masing.
“duduklah kalian, Allah telah mengetahui kedudukan kalianyang mulia
disisi-Nya.”
Tidak lama kemudian, datanglah
Bilal dengan membawa cambuk. Cambuk itu langsung diberikan kepada Ukasyah;
“terimalah cambuk ini dan laksanakan keinginanmu!” Ukasyahpun berucap: “wahai
rasulullah, ketika engkau mencambukku aku sedang tidak mengenakan baju. Aku
ingin engkau agar tidak mengenakan baju.” Nabi menjawab: “baiklah,” sambil
melepaskan jubah yang meliputi tubuh lemahnya.
Tingkah polah Ukasyah tadi
membuat suasana menjadi semakin tegang. Sebagian sahabat bahkan takbisa mengendalikan
emosinya. Kalau saja rasulullah tidak mencegah mereka, mungkin Ukasyah sudah
dipukuli oleh mereka. Begibu Rasulullah melepas pakaiannya, Ukasyah melemparkan
cambuk dari tangannya dan melompat memeluk nabi erat-erat, lalu menciumnya
sambil menangis. Sahabat yang lainpun semakin herandengan kelakuan sahabat yang
satu ini. “Apa yang engkau inginkan wahai Ukasyah?” Tanya rasulullah. Jawab
ukasyah; “wahai rasulullah, jiwaku adalah tebusanmu jika ada yang berani
menyakitimu. Aku tahu bahwa ini adalah pertemuan kita yang terakir karena
sebentar lagi engkau akan meninggalkan kami. Kalau nanti aku masuk surge tentu
sulit bagiku bertemu denganmu karena derajat kita yang berbeda. Tapi jika
neraka adalah tempatku, inilah kesempatan terakir bagiku menatap wajahmu. Oleh
karena itu sebelum kita berpish, aku ingin kulitku yang hina ini bersentuhan
dengan kulitmu yang mulia.” Rasulullah SAW menangis mendengar ucapan Ukasyah
lalu bersabda: “wahai sahabat-sahabatku jika kalian herdak melihat penduduk
surga, lihatlah Ukasyah, karena ketulusan cintanya kepadaku.” Para sahabat
berdiri dan memeluk Ukasyah. Mereka bergantian menciumnya sebagai penghormatan
atas dirinya yang telah dijamin masuk surga karena cintanya yang tulus kepada
rasulullah SAW.(ajaklah hatimu bicara)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar